Iris Rengganis, Butuh Puluhan Tahun Hingga Akhirnya Mantap Memilih Islam

“Ya Allah, kalau memang Islam ini agama yang harus saya anut, saya akan balik lagi ke sini.”

Iris RengganisBisikan hati tersebut melintas di hati dr Iris Rengganis sesaat sebelum ia meninggalkan Makkah. Ketika itu, pada 1993, ia diajak ayahnya, Prof Dr dr Karnen Garna Baratawidjaja SpPD KAI FAAAI, untuk melaksanakan umrah.

Ayahnya seorang dokter terkemuka di negeri ini, membawanya umrah sekitar satu tahun setelah anak sulungnya itu menyatakan masuk Islam di umur 34 tahun (1992).

Namun, umrah tersebut sama sekali tidak meninggalkan bekas spiritual pada diri Iris. “Bagi saya, umrah itu ibarat wisata saja. Orang-orang menangis waktu berada di Raudhah (tempat di depan makam Rasulullah di Masjid Nabawi, Madinah–Red). Tapi, saya hanya merasakan biasa-biasa saja. Mungkin karena saya belum mengerti betul tentang agama Islam, khususnya ibadah umrah.

Saya lebih banyak jalan-jalan dan berbelanja. Karena itulah, sewaktu mau pulang ke Indonesia, saya berkata dalam hati, akan balik lagi ke Tanah Suci kalau memang Islam itu agama yang benar buat saya,” papar wanita kelahiran Jakarta, 29 Juni 1958.

Wanita yang akrab dipanggil Iis itu butuh waktu puluhan tahun untuk memantapkan hatinya guna memeluk Islam. Sejak kecil, bersama dengan tiga adiknya yang semuanya perempuan, yakni Ambhara, Prasna Pramita, dan Farah Prashanti, hidup dalam sebuah keluarga yang berbeda agama. Ayahnya seorang Muslim, sedangkan ibunya, dr Wachjuni MHA, seorang pemeluk Kristen Protestan.

“Dari kecil, saya sudah terbiasa dengan suasana yang demikian (berbeda agama dalam satu keluarga). Dan sampai sekarang pun–ketika saya sudah menjadi Muslimah–hubungan keluarga besar tetap harmonis,” ujarnya.

Rindu suara azan

Seluruh anggota keluarga dokter itu tinggal di depan Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Karena itu, sejak kecil Iris sudah sering mendengar azan maupun pengajian yang dipancarkan dari masjid yang menjadi salah satu pusat kegiatan umat Islam di Jakarta Selatan itu.

“Meskipun demikian, tidak gampang bagi saya untuk menjadi Muslimah. Sebab, bagi saya, keislaman itu harus datang dari keyakinan hati. Saya tidak mau terpaksa atau setengah-setengah,” tegasnya.

Sewaktu bersekolah di SD negeri, Iris belajar agama Islam. Namun, sewaktu bersekolah di SMP dan SMA negeri, ia belajar agama Kristen Protestan dan aktif ke gereja. “Kedua orang tua saya memberikan kebebasan kepada saya maupun adik-adik saya untuk memilih agama yang diyakini. Demikian juga ketika sudah berumah tangga, suami saya pun tidak pernah memaksa saya untuk menjadi Muslimah,” ungkap Iris.

Lalu, apa yang akhirnya membawa Iris pada kesadaran untuk memilih Islam sebagai keyakinannya? “Sebetulnya lebih banyak pada pergaulan dengan teman-teman. Saya lebih senang melihat bukti nyata daripada sekadar teori atau membaca buku. Saya melihat doa teman-teman saya yang Kristen –yang taat dengan kekristenannya–dikabulkan Tuhan. Dan, saya juga melihat teman-teman saya yang keislamannya baik, doanya juga dikabulkan. Ditambah dengan keteladanan teman-teman yang takwa itu, akhirnya saya berpikir, mengapa saya tidak menjadi Muslimah,” paparnya.

Bersamaan dengan berjalannya waktu, ada hal yang sangat indah setelah Iris menjadi Muslimah. “Dulu kalau mendengar azan saya sering terganggu. Berisik. Kalau tevelisi menyiarkan azan, volumenya saya kecilkan. Namun setelah menjadi Muslimah, saya selalu kangen suara azan. Dan, saya memilih RCTI karena azannya sama dengan yang sering saya dengar saat berada di Madinah (Masjid Nabawi–Red). Mendengarkan azan, bagi saya, menguatkan iman,” papar ibu empat anak itu.

Haji dan Umrah

Apakah Islam memang agama yang benar dan harus dipilih oleh Iris? Allah yang Maha Mendengar bisikan hati, bahkan sesuatu yang hanya tebersit di kalbu, menjawab doa Iris. “Ternyata Allah memberikan petunjuk kepada saya bahwa Islam memang agama yang benar. Buktinya, sampai saat ini saya enam kali bolak-balik ke Tanah Suci,” tegasnya atas doanya sewaktu berumrah dahulu.

Tidak hanya itu, kasih sayang Allah kepada Iris begitu besar. Ia pergi haji dan umrah itu tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. ”Saya tiga kali umrah dan tiga kali haji, semuanya gratis,” kata Dokter Teladan Jakarta Selatan 1988, saat menjalankan tugas sebagai dokter Puskesmas Kelurahan Cikoko, Jakarta Selatan.

Umrah pertama pada 1993, dibayari oleh ayahnya. Kedua, pada 2000, sebagai dokter kloter haji selama 40 hari. Ketiga, pada 2002, haji dibayari oleh negara sebagai Kepala Balai Pengobatan Haji Indonesia di Madinah, selama 70 hari. Pada 2003, sepupunya menikah di Makkah, lagi-lagi dia dapat kesempatan umrah gratis.

Suatu hari, saat mengambil program S-3 di IPB, Iris mengaku sangat jenuh. “Ketika itu saya susah mikir, bete, maka saya berdoa kepada Allah bahwa saya ingin umrah,” ujar Iris yang pernah bekerja di RS Haji Jakarta.

Ternyata ada yang menawari ke Tanah Suci selama 70 hari. Tapi, tidak dapat izin dari atasan, sebab ia sedang kuliah S-3. Iris pun berdoa lagi agar diizinkan oleh Allah berangkat ke Baitullah.

“Ternyata Allah menjawab doa saya. Ada perusahaan obat yang menawarkan job kepada saya untuk melakukan penelitian tentang imuno modulator selama 40 hari di Tanah Suci. Dan, saya diizinkan,” tandas Iris yang baru saja meraih gelar doktor di bidang biologi dari IPB pada Juli 2009.

Jilbab

Jika ada jarak sekian puluh tahun bagi Iris untuk memantapkan hatinya memilih Islam, begitu pula dengan jilbab yang merupakan pakaian seorang Muslimah. Delapan tahun setelah mengucapkan dua kalimah syahadat, barulah wanita yang juga menjadi staf pengajar di FKUI itu mau memakai jilbab.

“Saya tidak mau memakai jilbab karena terpaksa. Kalau saya memakai jilbab, hal itu harus datang dari kesadaran dan keyakinan hati,” ujar dokter internis ahli alergi itu.

Ia sempat menolak ditawari sebagai dokter kloter haji karena belum siap memakai jilbab. “Setelah merasa nyaman memakai jilbab, barulah saya mau ditawari jadi dokter kloter haji,” tutur dokter yang pernah menjadi penanggung jawab mendirikan dan mengembangkan Klinik Alergi dan Klinik Edukasi Diabetes di RS Haji Jakarta.

RS Haji Jakarta, kata Iris, mempunyai posisi penting dalam perjalanan kematangan iman dan Islamnya. “Selama saya bekerja di sana, setiap pagi selalu diawali dengan doa bersama, dan siang hari seusai Shalat Zhuhur berjamaah, diisi dengan kultum (kuliah tujuh menit). Hal itu sangat membekas dalam hati saya. Boleh dikatakan saya memperoleh kemantapan iman dan Islam, termasuk mengenai busana Muslimah atau jilbab, terutama pada saat bekerja di RS Haji Jakarta. Bekerja di sana benar-benar berkah bagi saya,” paparnya.

Soal kemantapan hatinya memakai jilbab itu pun punya cerita sendiri. Sepulang haji, dia bertekad memakai jilbab sampai 40 hari. “Kata orang, pulang haji sebaiknya memakai jilbab sampai 40 hari,” tutur dokter yang tercatat sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan American College of Alergy sthma and Immunology (ACAAI) itu.

Ternyata respons orang-orang terdekatnya sangat positif. “Mereka bilang lebih pantas kalau saya berjilbab. Hati saya pun makin nyaman berjilbab. Pada 2000, Iris mulai mengenakan jilbab. “Saat itu hati saya sudah siap. Pakai jilbab karena kesadaran,” tuturnya.

Faktor lain yang juga membuat Iris makin mantap memakai jilbab adalah pengalamannya selama menjadi dokter kloter haji bersama dengan jamaahnya yang berjumlah 450 orang. “Ketika itu, saya dekat sekali dengan para jamaah. Kalau setelah pulang haji saya lepas jilbab dan suatu saat bertemu mereka, mereka bisa goyah. Hal itu bisa menjadi kerikil keimanan mereka. Sejak itu saya memutuskan akan terus berjilbab,” ujarnya.

Saking senangnya terhadap jilbab, Iris sering sekali membeli jilbab. “Jilbab-jilbab itu tidak semuanya saya pakai sendiri, sebagian saya berikan kepada orang lain.”

Iris punya pendapat khusus mengenai bagaimana seharusnya menjadi seorang Muslimah. “Seorang Muslimah seharusnya memakai pakaian yang sopan, tidak merokok, dan selalu menjaga kesehatan. Allah telah memberikan kepada kita tubuh yang sehat dan segar, jangan dirusak. Seorang Muslimah harus berjalan sesuai yang Allah gariskan.”

Iris selalu berupaya menjadi Muslim yang terbaik. Mengutip hadis Rasulullah SAW, dia mengatakan bahwa Muslim terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. “Hal itu saya terapkan betul dalam kehidupan saya, terutama dalam karier, baik sebagai seorang dokter maupun dosen,” ujarnya.

Sebagai seorang dokter, ia berupaya menolong orang yang sakit dengan kasih sayang, tidak sekadar tugas. Bahkan, terhadap pasien-pasien tertentu yang rumahnya jauh (misalnya luar kota) dan susah untuk bertemu di tempat praktiknya, ia tak segan-segan memberikan nomor handphone-nya. Mereka bisa berkonsultasi lewat SMS maupun telepon langsung.

Sebagai seorang dosen, ia berupaya memberikan ilmu sebanyak-banyaknya dalam mengajar. Tidak setengah-setengah. Ia tak pelit mengizinkan para mahasiswanya mengopi diktat kuliahnya. Ia pun tak segan-segan memberikan konsultasi kepada para mahasiswanya kapan pun keadaan memungkinkan.

“Saya ingin para mahasiswa saya mengerti ilmu yang saya ajarkan. Saya ingin mereka mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dari saya,” tutur staf pengajar di Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Divisi Alergi Imunologi Klinik, FKUI/RSCM itu.

Tentu saja semua itu ada landasannya. “Dasarnya adalah ikhlas. Resep hidup saya adalah ikhlas. Dalam keadaan apa pun ikhlas. Ikhlas itu membuat kita bahagia,” papar Iris Rengganis. irwan kelana

Doktor Ahli Alergi

“Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Segala Puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Tuhan Yang menciptakan tumbuh-tumbuhan dari sebutir serbuk sari hingga menjadi tumbuhan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lembutnya serbuk sari yang merupakan cikal bakal tumbuhan tidak saja bermanfaat bagi kehidupan manusia, namun serbuk sari ternyata dapat menjadi penyebab alergi yang mengganggu kesehatan bagi sebagian manusia. Atas dasar itulah kami terpanggil untuk melakukan penelitian di Institut Pertanian Bogor yang merupakan lembaga yang paling tepat di Indonesia untuk bidang tersebut.”

Kalimat demi kalimat di atas meluncur dari bibir Iris Rengganis saat dikukuhkan sebagai doktor di Pascasarjana, Jurusan Biologi, Institut Pertanian Bogor, Juli silam. Gelar tersebut diperolehnya setelah melalui perjuangan panjang lima tahun lamanya.

“Saat ini saya bisa berdiri di sini merupakan momentum yang sangat membahagiakan, karena setelah sekian lama melakukan penelitian dengan berbagai macam kesulitan yang nyaris membuat saya kehilangan harapan, akhirnya proses tersebut dapat dilalui,” tutur Iris yang sukses mempertahankan disertasi berjudul Kealergenikan Serbuk Sari Indonesia pada Manusia”.

Doktor yang juga dokter internis dengan spesialisasi di bidang alergi itu memang terbilang unik. Kuliah S-1 (1977-1983) dan S-2 (1989-1994) yang diambilnya adalah di bidang kedokteran, yakni di FKUI. Ditambah dengan kuliah mengenai Konsultan Alergi Imunologi di fakultas yang sama (1994-2000).

Keahliannya sebagai dokter alergi itu justru mendorongnya untuk mengambil kuliah S-3 di Fakultas Pascasarjana IPB, bidang biologi. Di tempat itulah, ia meneliti pengaruh serbuk sari tanaman sebagai alergen (faktor yang menyebabkan alergi) pada manusia yang berada di luar rumah. Misalnya, berbagai jenis tanaman maupun rumput-rumputan.

Di Indonesia, bidang ini merupakan penelitian yang pertama tentang pengaruh tanam-tanaman dan rumputan sebagai alergen di luar rumah bagi manusia. “Tingkat kesulitannya sangat tinggi karena referensi yang ada masih sangat terbatas,” tuturnya.

Objek penelitian Iris adalah beberapa jenis tanaman yang sering dijadikan pohon peneduh, antara lain akasia, pinus, dan kelapa genjah. Juga, kelapa sawit, jagung, alang-alang, dan rumput-rumputan. Hasilnya, ternyata serbuk sari tanaman-tanaman yang diteliti tersebut berpengaruh terhadap alergi.

“Yang paling besar pengaruhnya adalah alang-alang, disusul akasia. Padahal, kita tahu akasia merupakan salah satu tanaman yang dipilih oleh banyak pemda untuk penghijauan. Ini berarti para pemda harus mempertimbangkan kembali jenis-jenis tanaman yang dipilih untuk penghijauan,” tegas Iris.

Di atas semua itu, ada hal yang, menurut Iris, tidak kalah pentingnya. “Penelitian tersebut membuat saya makin kagum kepada kekuasaan Allah. Dia menciptakan serbuk sari pada tumbuhan yang memberikan manfaat bagi manusia, namun juga bisa menyebabkan alergi pada sebagian manusia. Sungguh Allah Mahakuasa, dan manusia disuruh untuk terus belajar,” tegasnya.

IslamIsLogic.wordpress.com
fb.com/IslamIsLogic

Pos ini dipublikasikan di Muallaf Indonesia dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Iris Rengganis, Butuh Puluhan Tahun Hingga Akhirnya Mantap Memilih Islam

  1. Ibu berkata:

    Bu Dr Iris, semakin cerdas pandai seseorang dalam mempelajari sesuatu, semakin banyak hal yang tidak dia ketahui dan semakin tunduk patuh di hadapan Allah SWT…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s