Pendidikan Anak Metode Rasulullah SAW (Usia 0 – 3 Tahun) [BAGIAN-1]

anak dan orangtua

Berikut ini kami bagikan cara mendidikan anak-anak metode Rasulullah SAW untuk usia 0 – 3 tahun [BAGIAN-1].

1. Berdoa Untuk Anak Saat Masih dalam Sulbi Ayah

Rasulullah bersabda, “Seandaianya salah seorang diantara kalian sebelum menggauli istrinya berdoa:

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْناَ الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَناَ

“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang engkau anugerahkan kepada kami, lalu dari keduanya lahir anak, setan tidak akan dapat mengganggunya selamanya.” (Muttafaq Alaihi).

Anjuran berdoa sebelum berhubungan suami-istri menunjukkan bahwa permulaan yang kita lakukan dalam berketurunan bersifat rabbani, bukan syaithani. Apabila disebutkan nama Allah pada permulaan senggama, berarti hubungan yang dilakukan oleh suami-istri tersebut berlandaskan ketakwaan kepada Allah dan dengan izin Allah anaknya nanti tidak akan diganggu setan.

2. Zikir Untuk Keselamatan Bayi yang Akan Dilahirkan

Rasulullah memberi petunjuk kepada Asma’ dengan bersabda:

“Maukah engkau aku ajari beberapa kata yang bisa kau ucapkan saat dalam kekhawatiran (yaitu doa untuk memperlancar persalinan). Ucapkanlah:

اَللهُ اَللهُ رَبِّيْ لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً

“Allah, Allah rabbku. Aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (Abu Dawud dengan Sanad Hasan, 1525).

3. Apabila terjadi keguguran

Dari Muadz bin Jabal, Rasulullah bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya bayi yang gugur benar-benar akan menarik ibunya dengan tali pusarnya ke surga bila ibunya rela dengan itu (ibunya bersabar dengan kehilangan anaknya).” (Ibnu Majah, Kitab Janaiz, 1632).

4. Azan di Telingan Kanan Bayi Baru Lahir

Abu Rafi’ berkata:

“Aku melihat Rasulullah mengumandangkan azan di telinga Hasan bin Ali saat baru dilahirkan oleh Fatimah.” (Abu Dawud, Kitab Adab, 5105 dan At Turmidzi, Kitab Adhahi, 1514).

Ibn Qayyim berkata:

“Bahwa hikmah azan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir adalah agar suara pertama yang didegar adalah seruan yang mengandung makna keagungan Allah serta syahadat.” (Tuhfatul Maudud, Ibnu Qayyim, 39).

5. Berita Gembira Kelahiran Bayi

Ucapan selamat dan hadiah atas kelahiran bayi jelas akan menyenangkan keluarga bayi yang baru lahir dan akan menimbulkan suasana gembira, serta mempererat tali kasih dan ikatan persatuan antara sesama kaum muslimin.

6. Mentahnik Bayi dengan buah Kurma dan Mendoakannya

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa:

“Rasulullah sering didatangi para orang tua yang membawa bayinya untuk dimintakan berkah dan ditahnik.” (Muslim, Kitab Adab, 4000).

Langkah-langkah Rasulullah mentahnik bayi yaitu:

1) sepotong kurma, 2) dikunyah-kunyah seperlunya, 2) buka mulut bayi, dan suaapkan kurma tersebut sambil digosok-gosok dilangit-langit mulut bayi. (Lihat Kitab Ash-Shahihain).

7. Membentangi Bayi dengan Zikir dan Bersyukur kepada Allah

Dari Anas, Rasulullah bersabda:

“Allah tidak sekali-kali menganugerahkan suatu nikmat kepada hamba-Nya, lalu ia mengucapkan, ‘Segala puji hanya miliki Allah Rabb semesta alam’, melainkan apa yang diberikan lebih baik dari pada yang diambil-Nya’.” (Al Hadits Al Mukhtarah: VI, 2197).

Bila ada bayi yang baru lahir diantara keluarganya, Aisyah tidak bertanya, “Laki-laki atau perempuan?” Tapi ia bertanya, “Apa organ tubuhnya sempurna (lengkap)?” Bila dijawab “Iya”, ia berkata, “Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam.” (Shahih Al Adabul Mufrad, 485).

8. Memberikan Hak Waris Untuk Bayi yang Baru Lahir

Jabir bin Abdullah berkata:

“Rasulullah telah memutuskan bahwa bayi tidak boleh diberikan hak waris sebalum ia lahir dalam keadaan menangis (maksudnya: menangis dan menjerit atau bersin).” (Shahih Ibnu Majah, 2240 dan Majmu’uz Zawaid: IV, 225).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

“Bila bayi yang baru dilahirkan menangis, ia berhak mendapatkan warisan.” (Shahih Al Jami’, 328).

9. Kewajiban Zakat Fitrah atas Nama Bayi yang Baru Lahir

Ibnu Umar berkata:

“Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan atas setiap individu kaum muslimin, baik yang merdeka maupun budak, baik laki-laki maupun perempuan, baik masih bayi maupun sudah dewasa, yaitu satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.” (Muslim, 1639).

10. Menyayangi, Meski Lahir dari Hasil Perzinaan

Diriwayatkan:

Ada wanita dari Bani Ghamidiyah yang datang kepada Rasulullah dan mengaku bahwa dirinya telah mengandung dari perzinaan, beliau bersabda kepadanya, “Pulanglah sampai kamu melahirkan.”

Setelah melahirkan, ia datang lagi seraya menggendong bayinya dan berkata, “Wahai Nabi Allah, bayi ini telah saya lahirkan.”

Akan tetapi, Rasulullah bersabda kepadanya, “Pulanglah, susuilah ia sampai kamu menyapihnya.”

Setelah wanita itu menyapihnya, ia datang dengan membawa bayinya yang sedang memegang sepotong roti di tangan. Ia berkata, “Wahai Nabi Allah, bayi ini telah saya sapih dan kini ia sudah bisa makan sendiri.”

Rasulullah pun memerintahkan agar bayi itu diserahkan kepada salah seorang lelaki dari kaum muslimin dan memerintahkan agar dibuatkan galian sebatas dada untuk menanam tubuh wanita itu. Kemudian beliau memerintahkan kepada orang-orang untuk merajamnya dan mereka pun segera merajamnya. (Muslim, 3298).

Itulah kasih sayang Rasulullah terhadap anak walau hasil zina, memiliki hak yang sama, dan keinginan beliau yang kuat agar bayi itu tetap tidak terlantar. Apa dosa anak yang baru lahir itu hingga ia harus menanggung konsekuensi perbuatan dosa orang tuanya?

11. Merayakan Kelahiran Bayi dengan Aqiqah

Dari Samurah bin Jundub, Rasulullah bersabda:

“Semua anak itu tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh. Rambutnya dicukur dan ia dinamai.” (Shahih Al Jami’, 4184; Ibnu Majah, Kitab Dzabaih, 3156; dan At Turmidzi, Kitab Adhahi, 1442).

Dari Salman bin Amir, Rasulullah bersabda:

“Anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Karena itu, sembelihlah untuknya dan jauhkanlah gangguan darinya.” (Shahih Al Jami’, 4185).

Ummu Kurz pernah bertanya kepada Rasulullah, maka beliau menjawab:

“Untuk bayi laki-laki dua kambing (yang sepadan) dan untuk bayi perempuan satu kambing, baik kambing jantan maupun betina tidak ada masalah bagimu.” (At Turmidzi, Kitab Adhahi, 1435).

Abdullah bin Buraidah berkata:

“Aku mendengar ayahku berkata, ‘Pada masa Jahiliyah dulu, bila ada bayi yang baru dilahirkan, kami menyembelih kambing dan melumurkan darah kambing itu di kepala sang bayi. Setelah Allah menurunkan agama Islam, kami diperintahkan untuk menyembelih kambing dan mencukur rambutnya serta melumurinya dengan minyak za’faran’.” (Abu Dawud, Kitab Dhahaya, 2460 dan Fathul Bari: IX, 594).

12. Memberi Nama Yang Baik

Islam selalu menginginkan kemudahan, bahkan dalam persoalan pemberian nama. Islam tidak menginginkan kesulitan dalam hal pemberi nama. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dalam sabda Rasulullah. Beliau bersabda:

“Nama yang paling disenangi Allah adalah Abdullah dan Hammam, sedangkan nama yang paling buruk adalah Harb dan Murrah.” (Shaihul Mufrad, 625; Ibnu Hajar dalam Fathul Bari: X, 578).

Ibnu Umar menuturkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Sungguh, nama seseorang diantara kalian yang paling disenangi oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (Muslim, Kitab Adab, 3975).

13. Mencukur Rambut Bayi, Dibersihkan, dan Dihilangkan Kotorannya pada Hari Ketujuh

Ketika mencukur rambut bayi sebaiknya tidak mencukurnya seperti pelangi atau Al Qaza’. Al Qaza’ artinya mencukur sebagian rambut bayi dan membiarkan sebagian yang lainnya di beberapa bagian tanpa dicukur sehingga mirip pelangi.

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang Qaza’. Aku bertanya kepada Nafi’, “Apakah Qaza’ itu?” Nafi’ menjawab:

“Mencukur sebagian rambut bayi dan membiarkan sebagian yang lain.” (Muslim, Kitab Adab, 3975).

Makna yang dimaksud dan yang menjadi tuntunan ialah mencukur rambut kepada secara keseluruhan, karena mencukur sebagian dan membiarkan sebagian yang lain bertentangan dengan kepribadian seorang muslim yang seharusnya berbeda dengan kepribadian pemeluk agama lain (kafir).

14. Bercengkrama dengan Lidah dan Mulut

Abu Hurairah bercerita:

“Rasulullah keluar ke pasar Bani Qainuqa’ sambil berpegangan pada tanganku. Beliau berjalan mengelilingi pasar kemudian pulang dan duduk di masjid dengan kedua tangan merangkul lutut. Beliau bertanya, ‘Mana si kecil yang lucu itu? Panggilkan dia agar datang kepadaku.’

Al Hasan pun datang berlari, lalu langsung melompat ke pangkuannya. Rasulullah mencium mulutnya, kemudian berdoa, ‘Ya Allah, aku sungguh mencintainya. Maka cintailah dia dan cintailah orang yang mencintainya (sebanyak tiga kali)’.” Abu Hurairah berkata, “Setiap kali melihat Al Hasan, aku menangis.” (Muttafaq Alaih).

15. Memberi Julukan Ayahnya dengan Nama Anak

Abu Syuraih menceritakan bahwa pada awalnya dia bernama Abul Hakam. Kemudian Rasulullah bersabda kepadanya:

“Sesungguhnya Allah, Dialah hakim yang memutuskan dan hanya kepada-Nyalah semua keputusan.” (Abu Dawud, Kitab Adab, 4304 dan Nasa’i, Kitab Adabul Qadha’, 5292).

16. Kapan Menghitankan Anak?

Abu Hurairah berkata:

“Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Fitrah itu ada lima, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (Muttafaq Alaih).

Makhul mengatakan:

“Ibrahim menghitankan anaknya, Ishaq, saat itu berusia 7 hari, dan mengkhitankan Ismail pada usia 13 tahun. Demikianlah seperti yang disebutkan oleh Al Khalil.” (Zadul Ma’ad: II, 304).

17. Sayangi di Kala Sakit, Maklumi Kalau Ngompol

Ummu Qais binti Mihshan berkata:

“Aku pernah menemui Rasulullah dengan membawa bayiku yang masih belum makan makanan apa pun. Tiba-tiba ia kencing di pangkuan beliau. Baliau pun meminta air dan langsung menyipratkannya ke bagian yang terkena kencing (tanpa mencucinya).” (Muttafaq Alaih).

Usamah bin Zaid berkata:

“Rasulullah pernah mengambil dan mendudukanku di atas satu paha beliau dan mendudukkan Al Hasan di atas paha beliau yang lain. Kemudian beliau memeluk kami berdua dan berdoa, ‘Ya Allah, sayangilah keduanya karena aku sungguh menyayangi keduanya’.” (Bukhari, Kitab Adab, 5544; dan Ahmad, Musnadul Anshar, 20788).

18. Kewajiban Menyusui dan Menjamin Nafkah Anak

Wahai para ibu, berikanlah kasih sayangmu kepada anakmu, susuilah ia dengan air susumu agar engkau dapat menyempurnakan makna ibu yang engkau sandang dan agar engkau mendapatkan pahala. Didiklah sendiri anakmu sesuai dengan manhaj Rasulullah. Lihatlah QS. Al Baqarah: 233 dan Ath Thalaq: 7.

2:233

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 233).

Wahai ibu, cobalah engkau perhatikan. Apakah engkau pernah melihat burung, hewan lain, atau semua makhluk yang berstatus sebagai ibu pernah meninggalkan anaknya saat masih bayi dan menyingkir darinya? Sungguh merupakan perangai yang buruk bila hewan yang tidak berakal saja tidak meninggalkan anaknya yang masih kecil, sedangkan manusia yang berakal rela meninggalkan anaknya dan dipercayakan kepada orang lain.

65:7

[1] Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya[2], dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya [3]. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan [4]. (QS. Ath Thalaq: 7).

Tafsir ayat diatas:

[1] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menentukan nafkah sesuai keadaan suami.

[2] Oleh karena itu, jangan sampai ia memberikan nafkah seperti nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang fakir jika ia sebagai orang yang kaya.

[3] Hal ini sesuai sekali dengan hikmah dan rahmat Allah, dimana Dia menetapkan masing-masingnya sesuai dengan keadaannya, Dia meringankan orang yang kesulitan dan tidak membebani kecuali sesuai dengan kemampuannya baik dalam hal nafkah maupun lainnya.

[4] Ayat ini merupakan berita gembira terhadap orang-orang yang kesulitan, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan menghilangkan kesulitan mereka dan mengangkat penderitaan mereka, karena sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.

19. Umar Memperhatikan Anak Sejak Lahir

Suatu malam Umar mendengar tangisan seorang bayi. Maka Umar berkata kepada ibunya, “Susuilah dia.” Ibu si anak, yang tidak menyadari bahwa yang menyuruhnya adalah Umar, menjawab, “Amirul Mukminin tidak memberikan santunan untuk bayi yang baru lahir sampai masa penyapihannya.”

Umar berkata dalam hatinya, “Aku hampir saja membunuh anak itu.” Setelah itu ia berkata, “Susuilah dia, nanti Amirul Mukminin pasti akan memberikan santunan untuknya.” Sesudah itu, Umar mulai menetapkan santunannya untuk bayi yang baru lahir. Dengan demikian, tangis seorang bayi sanggup mengubah keputusan seorang kepala negara yang bernama Umar bin Khattab.

20. Boleh Menangisi Kematian Bayi dan Mengucapkan Belasungkawa Kepada Keluarganya

Anas berkata:

“Kami masuk bersama Rasulullah lalu beliau mengambil putranya, Ibrahim, dan langsung menciumnya. Setelah itu kami masuk lagi pada hari yang lain. Ibrahim saat itu sedang meregang nyawa. Air mata Rasulullah berlinang, sehingga Abdurrahman bin Auf berkata, “Wahai Rasulullah engkau juga menangis?” Beliau menjawab:

“Wahai Abdurrahman (beliau menangis lagi) mata ini menangis dan hati ini bersedih tetapi kami tidak mengatakan kecuali yang diridhai oleh Rabb kami. Sesungguhnya kami, wahai Ibrahim, benar-benar sedih karena berpisah denganmu.” (Muttafaq Alaih).

21. Mendoakan Anak Secara Khusus Saat Menshalatkan Jenazahnya

Sa’id bin Musyyab berkata, “Aku pernah shalat di belakang Abu Hurairah yang sedang menshalatkan jenazah anak kecil yang belum pernah melakukan suatu dosa pun. Aku mendengar Abu Hurairah mengucapkan doa berikut:

اَللَّهُمَّ أَعِذْهُ مِنَ عَذَابِ اْلقُبْرِ

“Ya Allah, lindungilah anak ini dari azab kubur.” (Muwattha’, Kitab Janaiz, 480 dan Aunul Ma’bad: VII, 362).

22. Anak yang Meninggal Ketika Masih Kecil Akan Masuk Surga

Aisyah berkata. “Rasulullah diundang untuk melayat jenazah seorang anak kecil dari kalangan Anshar. Aku (Aisyah) berkata, ‘Wahai Rasulullah, alangkah beruntungnya anak ini. Ia salah satu burung diantara burung-burung di surga. Ia tidak pernah berbuat keburukan dan belum pernah menemuinya.’

Kemudian, Rasulullah bersabda:

“Apakah engkau tahu yang selain itu, wahai Aisyah? Sesungguhnya Allah menciptakan penghuni surga yang telah Dia tetapkan untuknya saat mereka masih berada di tulang sulbi ayah mereka pula. Dan Dia menciptakan penghuni neraka yang telah Dia tetapkan untuknya saat mereka masih berada di tulang sulbi ayah mereka pula.” (Shahih Sunan Ibnu Majah, 67).

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Anak-anak kaum muslimin itu berada di sebuah gunung di surga. Mereka diasuh oleh Ibrahim dan Sarah sampai mereka dikembalikan kepada ayah-ayah mereka pada hari kiamat.” (Shahih Al Jami’, 1023).

23. Syafaat Anak Bagi Kedua Orang Tua yang Sabar Atas Kematian Anaknya

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Tidaklah sekali-kali sepasang muslim ditinggal mati oleh ketiga orang anaknya yang belum baligh, melainkan Allah akan memasukkan keduanya bersama anak-anak mereka ke dalam surga berkat karunia dan rahmat-Nya.”

Abu Hurairah melanjutkan, “Dikatakan kepada anak-anak tersebut, ‘Masuklah kalian ke dalam surga!’ Anak-anak itu menjawab, ‘Kamu menunggu kedua orang tua kami’. Perintah itu diulangi tiga kali, tetapi mereka mengeluarkan jawaban yang sama. Akhirnya, dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian bersama kedua orang tua kalian ke dalam surga’.” (Bukhari, Kitab Janaiz, 1171).

24. Tidak Mendapat Anak di Dunia, Mendapatkannya di Akhirat

Abu Sa’id berkata bahwa Rasulullah bersabda:

“Seorang mukmin itu bila sangat  menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya, dan tumbuh besar dalam sekejab, sebagaimana ia menginginkannya.” (Shahih Al Jami’, 6649).

25. Mempercepat Shalat Karena Mendengar Tangisan Anak

Anas mengatakan:

“Aku belum pernah shalat di belakang seorang imam yang lebih singkat dan lebih sempurna shalatnya, selain Rasulullah. Jika beliau mendengar suara tangisan anak, beliau mempercepat shalatnya karena khawatir akan mengganggu shalat ibunya.” (Bukhari, Kitab Adzan, 667).

26. Memanggil Anak dengan Julukan Sebagai Penghormatan

Anas pernah mengatakan:

Bahwa Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaknya. “Aku punya seorang saudara laki-laki yang dikenal dengan nama panggilan Abu Umair dan setahuku ia sudah disapih. Bila Rasulullah datang, beliau selalu menyapanya dengan panggilan, ‘Hai Abu Umair’.” (Bukhari, Kitab Adab, 5375).

27. Memanggil dengan Panggilan yang Baik

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Janganlah sekali-kali seseorang di antara kalian mengatakan, ‘Hai budak laki-laki! Hai budak perempuan!’ karena kamu semua, baik laki-laki maupun perempuan, adalah hamba-hambda Allah…” (Muslim, Kitab Al Alfazh Minal Adab, 9585).

28. Mengajak Shalat Berjamaah

Diriwayatkan:

Abdullah bin Syaddad berkata, “Rasulullah keluar dari rumahnya menemui kami yang sedang menunggu beliau untuk shalat (Maghrib atau Isya’), sedangkan beliau menggendong Hasan atau Husein. Rasulullah maju dan meletakkan cucunya, kemudian melakukan takbir shalatnya. Dalam salah satu sujud dari shalat itu, beliau lama sekali melakukannya.”

Ayah perawi mengatakan, “Maka kuangkat kepalaku, ternyata kulihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah yang sedang dalam sujudnya. Sesudah itu aku kembali ke sujudku.

Setelah Rasulullah menyelesaikan shalatnya, orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah melakukan sujud dalam shalatmu yang begitu lama, sehingga kami mengira terjadi sesuatu pada dirimu karena ada wahyu yang diturunkan kepadamu.”

Rasulullah menjawab, “Semuanya itu tidak terjadi, melainkan anakku ini menunggangiku sehingga aku tidak suka bila menyegerakannya untuk turun sebelum dia merasa puas denganku.” (An Nasa’i, Kitab Tathbiq, 1129).

Abu Qatadah Al Anshari meriwayatkan:

Bahwa Rasulullah pernah shalat sembari menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah. Apabila sujud, beliau meletakkan cucunya itu ke tanah dan apabila bangun, beliau menggendongnya kembali.” (Muttafaq Alaih).

29. Mengajarkan Kalimat Tauhid pada Anak

Anak kecil yang belum belajar berbicara itu ketika mendengar kalimat-kalimat azan, ia akan menirunya. Bahkan ia akan selalu memperhatikannya saat orang-orang dalam kelalaian. Maka ia tanpa sadar telah berusaha mengucapkan kalimat tauhid. Karena itu, seorang guru hendaknya membiasakan anak yang masih belum bisa bicara tersebut agar mengucapkan kalimat tauhid.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Ajarkanlah kepada anak-anak kalian pada permulaan bicaranya ucapan ‘laailaha illallah’ dan ajarilah ia agar diakhir hayatnya mengucapkan ‘laailaha illallah’.” (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’, At Turmizi: VI, 46).

30. Rasulullah Pernah Menghentikan Khatbah dan Meninggalkan Mimbar Untuk Menyambut Anak Kecil yang Berjalan Tertatih-tatih

Abdullah bin Buraidah telah meriwayatkan dari ayahnya yang berkata:

“Ketika Rasulullah sedang berkathbah kepada kami, tiba-tiba datanglah Hasan dan Husein yang keduanya mengenakan gamis berwarna merah dengan langkah tertatih-tatih.

Rasulullah pun langsung turun dari mimbarnya lalu menggendong dan meletakkan keduanya di hadapan beliau. Kemudian beliau membaca QS. Ath Thaghabun: 15:

64:15

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Ath Thaghabun: 15).

Kemudian Rasulullah bersabda:

‘Ketika aku memandang kedua anak ini berjalan dengan langkah tertatih-tatih, aku tidak sabar hingga kuhentikan khatbahku untuk menggendong keduanya.” (At Turmizi, Kitab Manaqib, 3774; an Nasa’i, Kitab Shalatil ‘Adhain, 1567).

31. Memperhatikan Penampilan dan Potongan Rambut Anak

Diriwayatkan oleh Nafi’ dan Ibnu Umar:

Bahwa Rasulullah melihat seorang anak kecil telah dicukur di sebagian sisi kepalanya dan dibiarkan pada sisi lain. Beliau pun melarang hal itu dan bersabda:

“Cukurlah semua atau biarkanlah semua.” (Abu Dawud, Kitab Tarajul, 3663).

Abdullah bin Ja’far meriwayatkan:

Bahwa Rasulullah mengurungkan diri untuk mendatangi keluarga Ja’far sebanyak tiga kali, lalu beliau mendatangi mereka. Beliau bersabda:

 “Janganlah kalian menangisi saudaraku setelah hari ini.”

Beliau bermaksud agar hari berkabung disudahi. Kemudian beliau bersabda:

“Panggilkanlah keponakan-keponakanku kemari.”

Maka kami pun datang dan rasa takut kami seperti hilang. Beliau bersabda:

 “Panggillah tukang cukur kepadaku.” Maka beliau menyuruhnya agar mencukur rambut kami.” (Abu Dawud, Kitab Tarajul, 3660).

32. Menggendong di Pundak, Mengajaknya Naik Kendaraan

Abdullah bin Ja’far berkata:

“Apabila Rasulullah baru tiba dari perjalanan, beliau selalu disambut oleh anak-anak ahli ahli baitnya. Suatu hari beliau baru datang dari perjalanan dan aku adalah anak yang paling terdepan menyambutnya. Maka beliau langsung menaikanku di depannya, kemudian didatangkanlah salah seorang di antara kedua putra Fathimah, Hasan atau Husein lalu beliau memboncengnya di belakangnya, dan kami bertiga memasuki kota Madinah di atas kendaraannya.” (Muslim, Kitab Fadhailush Shahabah, 4455).

Rasulullah pernah membawa Hasan dan Husein di kedua pundak beliau, lalu bersabda:

“Sebaik-baik pengendara adalah keduanya, tetapi ayah keduanya lebih baik daripada keduanya.” (Mu’jamul Kabir: III, 2677).

33. Segera Mencari Begitu Merasa Kehilangan

Abu Hurairah berkata:

“Rasulullah menuju pasar Bani Qainuqa’ sambil berpegangan pada tanganku. Beliau berjalan mengelilingi pasar kemudian pulang dan duduk di masjid dengan kedua tangan merangkul lutut.

Beliau bertanya, ‘Mana si kecil yang lucu itu? Panggilkan dia agar datang kepadaku’…” (Takhrijnya telah disebutkan sebelumnya).

34. Mengajarkan Etika Berpakaian

Abdullah bin Amr bin Ash berkata:

“Rasulullah pernah melihatku mengenakan sepasang pakaian yang dicelup dengan warna kuning. Kemudian Rasululah bersabda, “Apakah ibumu yang memerintahkan kamu mengenakan pakaian ini?” Aku menjawab, “Apakah aku harus mencuci keduanya?” Beliau menjawab, “Tidak, tetapi keduanya harus dibakar.” (Muslim, Kitab Libas waz Zinah, 3873).

35. Anjuran Untuk Tersenyum dan Mencium Anak-anak

Abu Hurairah berkata:

“Rasulullah mencium Hasan, sedangakan dihadapan beliau saat itu ada Al Aqra bin Habis yang sedang duduk. Al Aqra berkata, ‘Saya punya sepuluh anak, tetapi saya belum pernah mencium seorang pun di antara mereka.’ Rasulullah memandang ke arahnya dan bersabda, ‘Barang siapa yang tidak punya rasa belas kasihan, niscaya tidak akan dikasihi’.” (Shahihul Adabul Mufrad, 67).

36. Bercengkrama dengan Anak-anak

Ya’la bin Marrah berkata:

“Kami pernah keluar bersama Rasulullah lalu kami diundang untuk makan. Tiba-tiba, Husein bermain di jalan. Rasulullah pun segera mendahului orang-orang lalu membentangkan kedua tangan beliau. Anak itu berlari menghindar ke sana kemari. Rasulullah mencandainya hingga akhirnya beliau dapat menangkapnya. Satu tangan beliau memegang dagu Husein dan tangan satu lagi memegang kepala lalu beliau memeluknya. Setelah itu, beliau bersabda:

“Husein bagian dariku dan aku adalah bagian darinya. Allah mencintai orang yang mencintai Husein. Husein adalah satu dari cucu-cucuku.” (As Silsilatush Shahihah, 312).

Diriwayatkan:

Rasulullah juga pernah berbaring lalu tiba-tiba Hasan dan Husein datang dan bermain-main di atas perut beliau. Mereka sering menaiki punggung beliau saat beliau sedang sujud dalam shalatnya. Bila para sahabat hendak melarang keduanya, beliau memberi isyarat agar mereka membiarkan keduanya. (Shahih Al Jami’, 4797).

37. Memberi Hadiah, Mendoakan dan Mengusap Kepala Anak

Ibnu Abbas menceritakan bahwa apabila Rasulullah menerima buah yang pertama masak, beliau meletakkannya di kedua mata beliau lalu di mulut dan bersabda:

“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperlihatkan kepada kami awalnya maka perhatikanlah juga akhirnya kepada kami.” Kemudian beliau memberikan buah itu kepada anak yang ada di dekat beliau. (Shahih Al Jami’, 4644).

38. Menanamkan Kejujuran dan Tidak Suka Berbohong

Abdullah bin Amir berkata:

“Ibuku memanggilku dan pada saat itu Rasulullah sedang berada di rumah kami. Ibuku berkata, ‘Kemarilah aku akan memberimu sesuatu.’ Rasulullah bertanya kepada ibuku, ‘Apa yang akan engkau berikan kepadanya?’

Ibuku menjawab, ‘Aku akan memberinya buah kurma.’ Rasulullah pun bersabda, ‘Ingatlah, jika engkau tidak memberinya sesuatu, hal itu akan dicatatkan sebagai kedustaan bagimu’.(Ahmad, Musnadul Makiyyin, 15247 dan Abu Dawud, Kitab Adab, 4339).

39. Tidak Mengajarkan Kemungkaran Kepada Anak

Ali dan Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Pena itu diangkat dari tiga orang, yaitu: orang gila dan hilang akal hingga sembuh, orang tidur hingga bangun, dan anak-anak hingga baligh.” (Shahih Al Jami’, 3512).

Diantara kasih sayang Allah terhadap anak ialah Dia membebaskan mereka dari beban taklif pada masa kecil mereka. Meskipun anak itu masih kecil dan belum baligh, seseorang tidak boleh mengajarinya untuk berbuat maksiat. Misalnya, mengajarinya minum-minuman keras, berbuat kejahatan, merokok, berbuat buruk, mencela, mencaci, berucap cabul, dan perilaku serta ucapan buruk lainnya.

Demikianlah beberapa cara mendidikan anak-anak metode Rasulullah SAW untuk usia 0 – 3 tahun [BAGIAN-1]. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Sumber: mahluktermulia.wordpress / Syeih Jamal Abdurrahman dalam bukunya yang berjudul “Athfalul Muslimin Kaifa Robaahumun Nabiyyul Amin Saw” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Agus Suwandi dengan Judul  “Islamic Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi” Solo: Aqwam, 2010.

Baca artikel selanjutnya:

Pendidikan Anak Metode Rasulullah SAW (Usia 4 – 10 Tahun) [BAGIAN-2]

Pendidikan Anak Metode Rasulullah SAW (Usia 11 – 14 Tahun) [BAGIAN-3]

IslamIsLogic.wordpress.com
fb.com/IslamIsLogic
“Guide us to the Straight Path” (QS 1:6)

Pos ini dipublikasikan di Ilmu dan Islam, Kisah Nabi & Sahabat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s