“Piagam Anugerah” Bukti Nabi Muhammad SAW Pelindung Golongan Nasrani

islam means peace

Media massa pada hari ini terutamanya yang berpangkalan di Barat, secara sengaja ataupun disebabkan kedangkalan berfikir, seringkali menggambarkan agama Islam dalam pelbagai cara yang negatif.

Mereka “menyogok” masyarakat awam dengan berita dan pandangan yang salah bahwa golongan Muslim mesti memerangi komunitas non-Muslim dan Nabi Muhammad (s.a.w), dengan menyebarkan Islam dengan menggunakan pedang.

Hal ini semakin melorot selepas serangan ke atas New York dan Washington pada tahun 2011 lalu, yang kini dikenali sebagai ‘9/11’. Namun apa yang terjadi? Justru keingintahuan masyarakat dunia tentang Islam menjadi naik drastis dan banyak diantaranya malah menjadi muallaf.

Tetapi sejarah dunia telah membuktikan bahwa hubungan komunitas Muslim dan Kristiani pada masa lalu cukup dekat dan Nabi Muhammad (s.a.w), dan merupakan contoh terbaik sebagai pelindung non-Muslim semasa zaman Rasulullah.

Fakta ini dibuktikan oleh seorang sejarawan terkemuka bernama De lacey O’Leary. Dalam bukunya yang berjudul “Islam at The Cross Road”, ia menyatakan:

“Namun sejarah membuktikan bahwa legenda Muslim fanatik yang menyebar di seluruh dunia dan memaksakan Islam menggunakan pedang atas bangsa-bangsa yang ditawan, merupakan satu daripada mitos yang paling tidak masuk akal yang sering diulang-ulang oleh sejarawan.”

Sekiranya para non-Muslim berani membuka pikiran mereka dan membaca isi Al-Quran. Maka, mereka akan dapati bahwa terdapat banyak ayat Al-Quran yang menentang keganasan. Diantaranya termasuk:

waqaatiluu fii sabiili allaahi alladziina yuqaatiluunakum walaa ta’taduu inna allaaha laa yuhibbu almu’tadiina (dengarkan audio).

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Surah Al-Baqarah, ayat 190)

Sebab diturunkannya ayat tersebut:

Diketengahkan oleh Wahidi dari jalur Kalbi, dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas, katanya, “Ayat ini turun sewaktu perjanjian Hudaibiah. Ceritanya ialah bahwa tatkala orang-orang musyrik menghalangi Rasulullah saw. ke Baitullah, kemudian mereka ajak berdamai dengan tawaran boleh kembali pada tahun depan, lalu setelah sampai waktunya Nabi saw. bersama sahabat-sahabatnya bersiap-siap untuk melakukan umrah kada, hanya mereka merasa khawatir kalau-kalau orang Quraisy tidak menepati janji dan masih menghalangi mereka untuk memasuki Masjidilharam bahkan bersedia untuk berperang, sementara para sahabat itu tak ingin berperang pada bulan suci, maka Allah pun menurunkan ayat di atas.”

Dan juga:

laa ikraaha fii alddiini qad tabayyana alrrusydu mina alghayyi faman yakfur bialththaaghuuti wayu/min biallaahi faqadi istamsaka bial’urwati alwutsqaa laa infishaama lahaa waallaahu samii’un ‘aliimun (dengarkan audio).

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut [1] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Surah Al-Baqarah, ayat 256)

[1] Thaghut, ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.

Sebab diturunkannya ayat tersebut:

Diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasai dan Ibnu Hibban, dari Ibnu Abbas, katanya, “Ada seorang wanita yang sering keguguran, maka dia berjanji pada dirinya, sekiranya ada anaknya yang hidup, akan dijadikannya seorang Yahudi. Maka tatkala Bani Nadhir diusir dari Madinah, kebetulan di antara mereka ada anak Ansar, maka kata orang-orang Ansar, ‘Kami tak akan membiarkan anak-anak kami,’ maka Allah pun menurunkan, ‘Tak ada paksaan dalam agama.'” (Q.S. Al-Baqarah 256)

Ibnu Jarir mengetengahkan, dari jalur Said atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, katanya, “Tak ada paksaan dalam agama.” Ayat itu turun mengenai seorang Ansar dari Bani Salim bin Auf bernama Hushain, yang mempunyai dua orang anak beragama Kristen, sedangkan ia sendiri beragama Islam. Maka katanya kepada Nabi saw., “Tidakkah akan saya paksa mereka, karena mereka tak hendak meninggalkan agama Kristen itu?” Maka Allah pun menurunkan ayat tersebut.

Jadi secara dasarnya, Islam tidak mengajar berperang kecuali dalam keadaan untuk mempertahankan diri. Sekalipun terlibat dalam peperangan, Islam melarang umatnya melampaui batas.

illaa alladziina yashiluuna ilaa qawmin baynakum wabaynahum miitsaaqun aw jaauukum hashirat shuduuruhum an yuqaatiluukum aw yuqaatiluu qawmahum walaw syaa-a allaahu lasallathahum ‘alaykum falaqaataluukum fa-ini i’tazaluukum falam yuqaatiluukum wa-alqaw ilaykumu alssalama famaa ja’ala allaahu lakum ‘alayhim sabiilaan. (dengarkan audio).

Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) [2] atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya [3]. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu [4] maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka. (Surah An-Nisaa, ayat 90)

[2] Ayat ini menjadi dasar hukum suaka.
[3] Tidak memihak dan telah mengadakan hubungan dengan kaum muslimin.
[4] Maksudnya : menyerah.

Sebab diturunkannya ayat tersebut:

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Murdawaih mengetengahkan dari Hasan bahwa Suraqah bin Malik Al-Mudlaji menceritakan kepada mereka, “Tatkala Nabi saw. telah beroleh kemenangan terhadap lawan-lawannya di perang Badar dan perang Uhud, serta orang-orang sekeliling telah masuk Islam, saya dengar berita bahwa beliau hendak mengirim Khalid bin Walid kepada warga saya suku Mudallaj. Maka saya datangi beliau, lalu kata saya, ‘Saya minta Anda memberikan suatu karunia. Saya dengar kabar bahwa Anda hendak mengirim pasukan kepada kaum saya, sedangkan saya ingin agar Anda berdamai dengan mereka. Jika ternyata warga Anda masuk Islam, tentulah mereka pun akan masuk Islam. Tetapi jika tidak, maka tidaklah baik apabila warga anda itu menguasai mereka.’

Maka Rasulullah saw. pun mengambil tangan Khalid bin Walid, katanya, ‘Pergilah bersamanya dan turutilah apa yang dikehendakinya.’ Khalid pun mengikat perdamaian dengan mereka dengan syarat mereka tidak menolong musuh-musuh Rasulullah saw. dan apabila orang-orang Quraisy masuk Islam, maka mereka pun akan masuk pula bersama mereka. Dan Allah pun menurunkan, ‘Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum yang di antaramu dengan kaum itu telah ada perjanjian damai.’ (Q.S. An-Nisa 90).

Maka orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum itu akan terikat pula dalam perjanjian yang telah mereka perbuat.” Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dari Ibnu Abbas, katanya, “Diturunkan ayat, ‘Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum yang di antaramu dengan kaum itu telah ada perjanjian damai’ (Q.S. An-Nisa 90) mengenai Hilal bin Uwaimir Al-Aslami dan Suraqah bin Malik Al-Mudlaji juga mengenai Bani Judzaimah bin Amir bin Abdi Manaf.” Diketengahkan pula dari Mujahid bahwa ayat itu diturunkan pula pada Hilal bin Uwaimir Al-Aslami yang di antaranya dengan kaum muslimin ada suatu perjanjian. Beberapa orang anak buahnya mendata

Nabi Muhammad (s.a.w) juga pernah memberi perlindungan kepada golongan Kristian pada masa lalu. Dalam hubungan dengan kalangan non-Muslim, Rasulullah menuliskannya dalam ‘Piagam Anugerah’ yang kini tersimpan sebagian duplikatnya di Gereja St Catherine’s Monastery, Bukit Sinai, Mesir. Surat itu diberikan kepada seorang delegasi Kristen yang mengunjungi Nabi SAW pada 628 Masehi di Madinah.

‘Piagam Anugerah’ atau Surat Jaminan Muhammad (bahasa Inggris: Achtiname of Muhammad; Patent of Mohammed), juga dikenal sebagai Surat Perjanjian (Testamentum) Muhammad, adalah sebuah dokumen atau ahdname merupakan suatu surat perjanjian yang diratifikasi oleh nabi Muhammad SAW yang memberikan jaminan perlindungan dan hak-hak lain bagi para biarawan di Biara Santa Katarina, Semenanjung Sinai.

Surat ini dimeteraikan dengan gambar telapak tangan Muhammad. Gambar di bawah ini merupakan sebagian buktinya:

prophets-letter piagam anugerah

Dokumen ini menyatakan bahwa Nabi Muhammad (570-633) secara pribadi melalui perjanjian ini memberikan hak-hak dan kemudahan bagi semua orang Kristen “jauh dan dekat”.

Memuat sejumlah butir topik perlindungan orang-orang Kristen yang hidup dalam kekuasaan Islam sebagaimana para peziarah dalam perjalanan ke biara-biara, kebebasan beragama, kebebasan bepergian dan kebebasan menentukan para hakim dan memelihara hak milik mereka, bebas dari wajib militer dan pajak serta hak untuk dilindungi dalam peperangan.

Naskah perjanjian yang asli sudah tidak ada lagi, tetapi beberapa salinan masih ada di Biara Santa Katarina, di antaranya ada yang disaksikan oleh para hakim Islam untuk menguatkan keotentikan sejarahnya. Penjelasan tradisional mengenai hilangnya naskah asli adalah pada waktu Kekaisaran Ottoman menyerang Mesir pada tahun 1517 atas perintah sultan Selim I, naskah asli diambil dari biara tersebut oleh tentara Ottoman dan dibawa ke istana Selim di Istanbul.

Salinannya kemudian dibuat untuk mengganti kehilangannya di biara tersebut. Di sisi lain, mungkin pula perjanjian itu diperbarui di bawah penguasa baru, sebagaimana disebutkan dalam dokumen lain di arsip tersebut. Tradisi mengenai toleransi yang ditunjukkan terhadapa biara ini telah dilaporkan dalam dokumen-dokumen pemerintah yang diterbitkan di Kairo, dan selama periode kekuasaan Ottoman (1517-1798), Pasha Mesir setiap tahun menegaskan kembali perlindungannya.

Pada tahun 1630, Gabriel Sionita menerbitkan edisi pertama naskah bahasa Arab, dengan terjemahan bahasa Latin, berjudul Testamentum et pactiones inter Mohammedem et Christianae fidei cultores atau judul bahasa Arab “Al-‘ahd wa-l-surut allati sarrataha Muhammad rasul-Allah li ahl al-millah al-nasraniyyah.

Berikut merupakan terjemahan isi piagam tersebut:

“Ini adalah pesan Muhammad bin Abdullah, sebagai perjanjian dengan orang-orang yang beragama Kristiani, jauh ataupun dekat, kita bersama dengan mereka. Sesungguhnya saya, hamba-hamba, pembantu, dan pengikut saya akan mempertahankan mereka, karena orang-orang Kristiani juga adalah warganegara saya. Dan demi Allah! Saya bertahan terhadap apapun yang mengganggu mereka!”

Tiada paksaan yang diberikan atas mereka.

Tidak ada hakim-hakim mereka yang akan dipecat dari pekerjaan mereka dan tidak ada juga rahib mereka yang dibuang dari tempat ibadah mereka.

Tidak ada siapapun yang akan memusnahkan rumah ibadah mereka, merusakkan, atau membawa apapun dari rumah ibadah mereka ke rumah-rumah orang Islam.

Siapapun yang mengingkari perintah ini walaupun satu orang, dia akan merusakkan perjanjian Allah dan durhaka kepada Rasul-Nya. Sesungguhnya, mereka adalah sekutu saya dan saya mempunyai piagam yang menyelamatkan terhadap apa yang mereka benci.

Tiada siapapun yang akan memaksa mereka untuk melakukan perjalanan atau memaksa mereka untuk berperang.

Orang-orang Islam berjuang untuk mereka.

Jika seorang wanita Kristiani menikah dengan seorang Muslim, dan dilakukan tanpa kemauan beliau, dia tidak akan dihalangi ketika melawat gereja untuk berdoa.

Gereja-gereja mereka perlu dihormati. Mereka tidak boleh dihalangi dari memperbaiki diri mereka maupun kesucian janjinya.

Tiada satu negara (Islam) pun, akan melanggar perjanjian ini, hingga hari terakhir (akhir dunia).”

Asal mula dokumen ini telah menjadi topik berbagai tradisi berbeda, yang paling terkenal melalui kisah-kisah petualang Eropa yang mengunjungi biara tersebut. Para pengarang ini termasuk perwira Perancis Greffin Affagart (mati ~ tahun 1557), pengunjung Perancis Jean de Thévenot (mati tahun 1667) dan uskup (prelate) Inggris Richard Peacocke, yang menyertakan terjemahan bahasa Inggris naskah tersebut.

Sejak abad ke-19, beberapa bagian Achtiname ini mulai diteliti lebih mendalam, terutama daftar para saksi. Terdapat kemiripan dengan dokumen-dokumen lain yang diberikan kepada komunitas agama lain di Timur Dekat. Salah satu contoh adalah surat Muhammad bagi orang-orang Kristen di Najrān, yang ditemukan pertama kali pada tahun 878 pada sebuah biara di Irak dan naskahnya diawetkan di Chronicle of Séert.

Isi dari perjanjian didalam Piagam Anugerah itu merangkumi semua aspek hak asasi kemanusiaan, termasuklah perlindungan untuk golongan Kristiani, untuk kebebasan beribadah dan bergerak, kebebasan untuk mereka memilih hakim sendiri, memiliki dan menyimpan harta, pengecualian wajib militer dan hak pelindungan semasa perang.

Selain itu pula, dengan “gamblang” Allah SWT menurunkan ayat ini di dalam Al-Qur’an:

latajidanna asyadda alnnaasi ‘adaawatan lilladziina aamanuu alyahuuda waalladziina asyrakuu walatajidanna aqrabahum mawaddatan lilladziina aamanuu alladziina qaaluu innaa nashaaraa dzaalika bi-anna minhum qissiisiina waruhbaanan wa-annahum laa yastakbiruuna (dengarkan audio).

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (Surah Al-Maidah ayat 82)

Berikut sambungan ayat tersebut, yaitu surah Al-Maidah ayat 83:

wa-idzaa sami’uu maa unzila ilaa alrrasuuli taraa a’yunahum tafiidhu mina alddam’i mimmaa ‘arafuu mina alhaqqi yaquuluuna rabbanaa aamannaa fauktubnaa ma’a alsysyaahidiina (dengarkan audio).

Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad SAW). (Surah Al-Maidah ayat 83)

Sebab diturunkannya kedua ayat tersebut:

Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Said bin Musayyab dan Abu Bakar bin Abdurrahman serta Urwah bin Zubair. Mereka menceritakan, bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus Amr bin Umayyah Adh-Dhamari membawa sepucuk surat yang ditujukan kepada Najasyi. Amr akhirnya datang ke hadapan Najasyi lalu ia membaca surat Rasulullah saw. Lalu sang raja memanggil Jakfar bin Abu Thalib dan orang-orang yang ikut berhijrah bersamanya, sang raja pun mengutus agar memanggil para rahib dan para pendeta.

Setelah semuanya berkumpul sang raja memerintahkan kepada Jakfar bin Abu Thalib agar membacakan sesuatu kepada mereka. Jakfar lalu membacakan surah Maryam di hadapan mereka. Akhirnya mereka semua beriman kepada Alquran bahkan mata mereka mencucurkan air mata dan merekalah orang-orang yang dimaksudkan oleh Allah ketika menurunkan firman-Nya, ‘Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya…’ sampai dengan firman-Nya, ‘…maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Alquran dan kenabian Muhammad saw.)'” (Q.S. Al-Maidah 82-83).

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan sebuah hadis dari Said bin Jubair yang menceritakan, bahwa Najasyi pernah mengirimkan tiga puluh orang utusan yang terdiri dari sahabat-sababat pilihannya kepada Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. membacakan kepada mereka surah Yasin. Akhirnya mereka menangis mendengarkan pembacaan surah-itu, kemudian turunlah ayat ini yang berkenaan dengan sikap mereka itu.

Imam Nasai mengetengahkan sebuah hadis dari Abdullah bin Zubair yang mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Najasyi dan sahabat-sahabat terdekatnya, “Yaitu mereka yang apabila mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya akan mengalirkan air mata….” (Q.S. Al-Maidah 83) Imam Thabrani mengetengahkan hadis yang serupa dari jalur Ibnu Abbas, bahkan hadisnya ini lebih sederhana daripada hadis yang di atas.

Jadi jelas, pertikaian yang hampir tidak ada habisnya antar pemeluk agama (dalam hal ini Islam dan Kristen dan semua agama samawi) sejak ratusan tahun lalu, jelas adalah ulah sekelompok penganut syaitan (satanic) yang beraliran sebagai pembenci, pendengki, penebar fitnah, pengadu-domba, provokator dan angkuh merasa paling hebat.

Dan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang telah didisain dengan matang (great design) oleh mereka tersebut, membuat kita terlupa dengan apa yang telah dipesankan Rasulullah SAW jauh sebelum kita lahir, yaitu untuk melindungi kaum minorotas.

Terbukti pula, bahwa Islam yang berarti juga damai, memang benar adalah agama “rahmatan lil alamin” yang artinya “Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia”.

Itu semua sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-Anbiyaa ayat 107 yang bunyinya”.

wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiina (dengarkan audio).

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Surah Al-Anbiyaa ayat107)

Inilah bukti Islam melarang manusia berlaku semena-mena terhadap setiap makhluk Allah, lihat saja sabda Rasulullah sebagaimana yang terdapat dalam Hadis riwayat al-Imam al-Hakim (shahih):

“Siapa yang dengan sewenang-wenang membunuh burung, atau hewan lain yang lebih kecil darinya, maka Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadanya”.

Artinya, burung tersebut mempunyai hak untuk disembelih dan dimakan, bukan hanya untuk dibunuh dan dilempar.  Maha Benar Allah, dengan segala firman-Nya.

Artikel Terkait:

Ini Seruan Nabi Muhammad Agar Kaum Muslim Lindungi umat Nasrani

Lihat Video: Beginilah Saat Islam Membantu dan Akhirnya Menguasai tanah Palestina dan Israel, Yang Sebelumnya Ditindas Bangsa Romawi

IslamIsLogic.wordpress.com
fb.com/IslamIsLogic.wordpress.com
“Guide us to the Straight Path” (QS 1:6)

Pos ini dipublikasikan di Kisah Nabi & Sahabat, Sejarah dan Kisah Islam. Tandai permalink.

Satu Balasan ke “Piagam Anugerah” Bukti Nabi Muhammad SAW Pelindung Golongan Nasrani

  1. Zuhdi berkata:

    Subhanallah…ternyata benar adanya bahwa kaum nasrani meyakini dan mempercayai kerasulan Baginda Muhammad Rasulullah SAW…Maha Besar Allah SWT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s