Aisha Uddin, Bertahun-Tahun Mempelajari Islam Hingga Akhirnya Yakin dan Masuk Islam

aisha-uddin

Kulitnya putih pucat, matanya biru terang. Sebelum berjilbab, banyak orang terkaget-kaget ia bisa melantunkan Al Fatihah dengan merdu. Memang, tak sefasih Sameeah Karim, sahabatnya. Namun, bagi seorang kulit putih seperti dirinya, sungguh luar biasa.

Sudah beberapa tahun ini, Aisha memeluk Islam. Gadis 22 tahun ini juga sudah mulai berjilbab, bahkan lebih gemar mengenakan abaya. “Sebelum ini, jeans dan hoodies adalah busana saya sehari-hari…juga make up tebal,” ia terkekeh menceritakan.

Banyak yang memprotes perubahannya, tapi ia tersenyum saja menanggapinya. “Bagi saya sekarang, jelas itu merupakan perubahan dramatis, tapi saya senang dengan apa yang saya buat, karena sekarang saya tidak harus membuktikan diri untuk menjadi orang lain di luar saya. Inilah saya,” ujarnya.

Aisyah menaruh minat pada agama sejak menginjak sekolah menengah. Sejak itu, ia mulai diam-diam mengunjungi masjid setempat untuk belajar agama yang semula dianggap ‘aneh’ olehnya.

“Islam menarik perhatian saya dan saya ingin tahu lebih jauh ke dalamnya – orang-orangnya juga budayanya – dan saya terus belajar dan belajar,” ujarnya.

Melanjutkan pendidikan ke Birmingham, ia merasa bak di surga. “Saya tak perlu lagi sembunyi-sembunyi belajar, dan di sekeliling saya banyak yang Muslim,” katanya.

Dia mengaku menghabiskan bertahun-tahun belajar banyak tentang Islam sebelum sepenuhnya yakin dan bersyahadat. Setelah bisa mempraktikkan shalat lima waktu dengan benar, ia mulai belajar berjilbab.

“Hidup berubah secara dramatis setelah itu,” akunya.

Ia bukan sedang bercerita tentang penampilannya, namun apa yang ada dalam dirinya. “Dulu saya adalah seorang pemberontak dan selalu mendapatkan masalah di rumah. Lalu ketika saya menjadi Muslim, saya menjadiagak tenang,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga lebih senang tinggal di rumah, ketimbang dugem di luar rumah. “Mempelajari sesuatu dari internet, atau membaca buku membuat saya lebih bahagia…Kini saya bangga punya identitas tertentu,” akunya.

Demi Islam, Kuhadapi Segala Tantangan

Keluargaku tak senang. Mereka terus memprotes identitas Muslimku, terus menginterogasi jika aku mengenakan jilbab,” keluh Aisha Uddin.

Laura, demikian nama lamanya sebelum menjadi Muslimah. Namun, demi meleburkan hatinya pada jalan Islam yang lurus, ia kini enggan menggunakan nama itu.

Ketulusan dan keikhlasannya menjadi Muslimah rupanya tak berbanding lurus dengan respons orang tua dan keluarganya. Mereka menolak keras keislamannya. Namun, wanita Inggris ini tetap setegar karang.

Usia Aisha baru menginjak 20 tahun saat memutuskan memeluk Islam. Sejatinya, jauh sebelum itu ia telah merasa penasaran dengan Islam. Saat remaja, ia sering diam-diam ke masjid di dekat rumahnya.

Ia menyelinap dan bertanya tentang Islam kepada siapa saja yang ada di sana. Namun, belum lengkap pengetahuan Aisha tentang Islam, ia dan keluarganya pindah ke kota lain, Birmingham.

Kepindahan keluarganya justru membawa hal positif bagi Aisha. Di Birmingham, Aisha mengenal beragam agama. Ia pun lebih banyak bertemu Muslimin di kota tersebut.

“Islam telah menarik minat saya. Islam telah tertangkap mata saya dan saya ingin melihatnya lebih jauh ke dalam. Saya ingin melihat orang-orangnya, budayanya, dan sebagainya,” jelasnya.

Ia menambahkan, ”Saya pun terus belajar dan belajar. Bahkan, setelah sekolah dan tinggal di Birmingham, saya benar-benar dikelilingi agama,” ujar Aisha dengan mata berbinar, seperti dikutip Islam Today.

Butuh waktu bertahun-tahun bagi Aisha untuk mempelajari agama Islam. Hingga memasuki usia 20 tahun, Aisha kian mantap dengan agama akhir zaman ini. Ia pun bersyahadat dan berkomitmen untuk terus memegang teguh keimanan Islam walau apapun yang terjadi.

Dari awal, Aisha telah memiliki firasat keputusannya ini akan ditentang banyak pihak, terutama keluarga. Meski demikian, hal itu sama sekali tak mengurangi tekadnya untuk berislam, termasuk mengubah penampilannya menjadi Muslimah berjilbab.

“Saya sangat senang akan perubahan itu. Sebelum menjadi Muslim, saya selalu menggunakan celana jeans, hoodies, dan make-up yang menor,” kata Aisha malu-malu. Mata birunya bersinar bahagia. Parasnya cantik berbalut jilbab hitam meski tanpa make-up.

Kebahagiaan itu sempat meredup tatkala Aisha menemui kenyataan keluarganya menolak keras keputusannya berislam. Bayangkan, tiba-tiba ia dimusuhi keluarganya.

Orang tuanya menuding Aisha sebagai anak yang durhaka dan tak berbakti. “Keislaman saya dianggap sebagai penolakan, tak balas budi, tak menghormati orang tua yang telah membesarkan saya,” ungkap Aisha sedih.

Meski sedih, Aisha tak mau melepaskan hidayah yang telah diraihnya. Ia terus bertahan meski rumahnya seakan penjara baginya. Ia tak diizinkan pergi ke luar rumah untuk mempelajari Islam. Pada saat yang sama, orang tuanya terus berusaha membujuk Aisha agar kembali pada agama sebelumnya.

Ketegangan kian memuncak saat Aisha mengenakan jilbab. Menurut Aisha, ia akan diteror dan diamuk keluarganya jika ketahuan mengenakan jilbab. Namun, Aisha bertekad untuk terus berjilbab. Meski keluarga terus meneror, Aisha diam-diam tetap mengenakan busana yang menutup aurat tersebut.

Akhirnya, hal yang ditakutkan Aisha pun terjadi. Ia diusir dari keluarga. Ia tak diizinkan lagi menggunakan nama keluarga. Aisha, yang dulu bernama Laura, memilih menggunakan nama Islam selamanya.

Penolakan keras dari keluarga tentu membuat Aisha sedih. Namun, ia tak marah. Buktinya, ia terus berusaha memperbaiki hubungan dengan keluarga dan memberi pengertian kepada mereka meski tak pernah membuahkan hasil.

Dalam wawancara dengan BBC, Aisha mengaku sedang giat mempelajari Al-Quran. Ia belajar membaca dan menulis huruf Arab. Meski masih terbata-bata, kini Aisha telah mampu membaca Kitabullah.

Saat ini, Aisha berusia 22 tahun. Artinya, sudah dua tahun ia bertahan di atas tantangan-tantangan yang menguji keimanannya. Terbukti, ia mampu bertahan. Ia masih berislam hingga kini.

Ia pun menemukan seorang pria Muslim yang kini menjadi suaminya. Ia memang kehilangan keluarganya. Namun kini, ia memiliki keluarga baru yang senantiasa mendukung keislamannya.

Islam menjadikan Aisha sebagai pribadi yang lebih baik. Ia merasa kehidupannya berubah sangat drastis. Namun, hal ini bukan karena tantangan yang melandanya, melainkan karena rasa bahagianya hidup sebagai Muslimah.

“Saya sebelumnya seorang pemberontak. Saya selalu mendapatkan masalah di rumah, pergi keluar dan tinggal di luar. Saya juga malas belajar di sekolah,” aku Aisha polos.

Setelah memeluk agama Allah, Aisha menjadi lebih kalem, merasa sangat tenang dan damai. Tak pernah ia merasa bahagia seperti setelah berislam.

Aisha pun lebih senang membaca buku dan mempelajari Al-Quran. Ia tak lagi liar seperti dulu. Sikapnya lebih lembut dan tak suka berbicara keras, apalagi memberontak.

Meski banyak tantangan yang dihadapi dan keluarga terus menentangnya, Aisha tak pernah menyesal memeluk Islam. Sebaliknya, ia merasa amat bersyukur merasakan manisnya hidayah.

Ia pun amat bangga memiliki identitas sebagai seorang Muslimah. “Saya bangga dengan diri saya sekarang,” ujarnya penuh syukur. (Source : Republika)

IslamIsLogic.wordpress.com
fb.com/IslamIsLogic
“Guide us to the Straight Path” (QS 1:6)

Pos ini dipublikasikan di Muallaf Non-Indonesia. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s