Keberadaan Jin Muslim

keberadaan-jin-yang-muslim

Allah SWT memiliki beragam ciptaan, baik yang tampak dan yang ghaib. Di antara sekian ciptaan yang ada di bumi, Allah juga menciptakan jin, selain manusia, yang menghuni planet ini.

Islam pun meyakini keberadaan jin di dunia ini. Hal itu tertuang dalam Alquran Surat Al Araaf ayat 27:

yaa banii aadama laa yaftinannakumu alsysyaythaanu kamaa akhraja abawaykum mina aljannati yanzi’u ‘anhumaa libaasahumaa liyuriyahumaa saw-aatihimaa innahu yaraakum huwa waqabiiluhu min haytsu laa tarawnahum innaa ja’alnaa alsysyayaathiina awliyaa-a lilladziina laa yu/minuuna

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al-Araaf 7 : 27)

Proses penciptaan jin lebih dahulu dari manusia. Allah menciptakan jin dari api yang menyala.

walaqad khalaqnaa al-insaana min shalshaalin min hama-in masnuunin

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS Al Hijr 15 : 26)

waaljaanna khalaqnaahu min qablu min naari alssamuumi

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS Al Hijr 15 : 27)

Namun demikian, manusian tidak dapat melihat jin. Ini disebabkan sifat jin sendiri memang telah ditetapkan oleh Allah sebagai penghuni alam gaib, sehingga wujudnya tidak dapat ditangkap oleh panca indera manusia.

Lantas bagaimana kehidupan para jin? Kehidupan para jin tidak berbeda jauh dengan manusia. Para jin ini juga diciptakan dengan dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan.

fiihinna qaasiraatu alththharfi lam yathmitshunna insun qablahum walaa jaannun

Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. (QS Ar Rahman 55 : 56).

Selain itu, terdapat pula hadis yang menyebut jin berkelamin laki-laki dan perempuan. Seperti diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang berbunyi:

“Dari Arthaah Ibnul Mundzir rahimahullahu berkata: Dhamrah ibnu Habib pernah ditanya: Apakah jin akan masuk surga? Beliau menjawab: Ya, dan mereka pun menikah. Untuk jin yang laki-laki akan mendapatkan jin yang perempuan, dan untuk manusia yang jenis laki-laki akan mendapatkan yang jenis perempuan.”

Karena kehidupan para jin tidak berbeda dengan manusia, maka jin pun juga mengenal agama. Bahkan, jin pun juga digolongkan menjadi shalih dan ingkar.

Hal itu termaktub dalam Surat Al Jin ayat 11:

wa-annaa minnaa alshshaalihuuna waminnaa duuna dzaalika kunnaa tharaa-iqa qidadaan

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. Al Jin 72 :  11).

Hal itu diperkuat dengan Surat Al Jin ayat 14:

wa-annaa minnaa almuslimuuna waminnaa alqaasithuuna faman aslama faulaa-ika taharraw rasyadaan

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang ta’at dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang ta’at, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. (QS. Al Jin 72 :  14).

Dua ayat di atas menyebutkan, dalam golongan jin juga terdapat kelompom yang kafir, penjahat, dan ada pula yang sholeh. Bahkan, bagi mereka yang memeluk agama Islam, mereka juga merupakan penganut mazhab-mazhab Islam yang ada di dunia manusia seperti Sunni, Syi’ah, Khawarij, Sufi, dan sebagainya.

Selain itu, tempat tinggal jin juga tidak berbeda jauh dengan manusia. Terdapat beberapa jin yang memilih tinggal di atap rumah manusia.

Ada juga jin yang suka tinggal di tempat-tempat tertentu seperti toilet, rumah kosong, pohon, gua, dan lain sebagainya. Biasanya, jin-jin yang bertempat tinggal di sini merupakan jin dari kelompok ingkar.

Sementara itu, bagi jin-jin muslim, kebanyakan memilih tinggal di masjid. Mereka pun sering beribadah bersama dengan manusia. (dari berbagai sumber).

IslamIsLogic.wordpress.com
fb.com/IslamIsLogic
“Guide us to the Straight Path” (QS 1:6)

Pos ini dipublikasikan di Ilmu dan Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s