Ann Spaulding: Allah Selalu Bersamaku

muslimah-jilbab cadar

Ann Spaulding lahir dan besar di Virginia Barat, AS. Ia dan keluarganya penganut Kristen. Sementara ayahnya seorang Yahudi. Sebagai penganut Kristen, Ann sangat aktif ke geraja.

“Aku dibesarkan dalam tradisi Kristen yang kuat, sehingga aku tidak pernah mengenal Islam dan Muslim,” kenangnya seperti dikutip Onislam.net, Senin (10/6/13).

Semasa remaja, Anna gemar bermain flute. Kemampuan itu tidak terlepas dari bakat musik yang diturunkan keluarganya. Selain bakat, hubungan antar anggota keluarganya yang tidak harmonis, terutama pada ayah dan ibunya, mendorongnya mencari pelampiasan melalui flute. “Aku tidak tahu bagaimana hidup tanpa cinta. Aku coba mencari cinta itu dengan flute,” kenang Ann.

Pada usia 18 tahun, Ann bergabung dengan angkatan laut AS. Meski menjalani dinas kemiliteran, Ann tetap bermain flute. Ketergantungannya pada flute kian menjadi ketika ia gagal membina rumah tangga. Hanya flute pelipur lara baginya.

Selesai dinas kemiliteran, Ann kembali aktif di gereja. Di sana, ia menjadi pribadi yang berbeda. Ia mulai mengenakan pakaian serba tertutup. Selama itu, ia mulai bertanya-tanya soal Tuhan. Setiap pertanyaan yang diajukan kepada pastornya, ia tidak mendapatkan jawaban memuaskan.

Merasa butuh jawaban itu, Ann coba mencarinya lewat ilmu pengetahuan. Selama masa pencarian itu, ia bertemu dengan seorang Muslimah. Perempuan Muslim itu memberikannya literatur tentang Islam. Ann pun mulai dekat dengannya.

“Jujur, ada rasa kagum. Aku merasa dia seorang yang jujur, ia tidak hanya mengatakan dirinya Muslim, namun ia praktekkan ajaran Islam dengan baik,” kata dia.

Melalui literatur yang diberikan perempuan Muslimah itu, Ann mempelajari Islam lebih dalam. Pada akhirnya, Ann merasa Islam merupakan jawaban yang ia cari. Ann pun tak ragu mengucapkan dua kalimat syahadat. Alhamdulillah.

Usai mengucapkan syahadat, Ann mulai mencoba untuk mempraktekkan apa yang diyakininya. Ia mulai mengenakan hijab, meski butuh pertimbangan panjang. Ia percaya, niat mengenakan jilbab harus dari hati.

Selanjutnya, Ann mulai menyadari bahwa belum semua masyarakat AS menerima Islam dan Muslim. Berulang kali ia mendapat serangan Islamofobia. Namun, ia tabah menjalani hal itu. Ia pun mulai mempromosikan Islam. Seorang anak laki-laki yang dahulu sempat menyerangnya akhirnya memutuskan jadi Muslim.

“Aku percaya, Allah bersamaku. Seberapapun serangan Islamofobia yang menimpaku tidak akan membuatku sedih, aku justru bahagia,” kata dia.

Memasuki tahun kedua dan ketiga, Ann mulai aktif dalam kegiatan di masjid. Ia mulai merasa nyaman berada di masjid. “Aku seorang mualaf, tentu belumlah menjadi Muslim yang kaffah. Tapi aku merasa tidak terbebani diri, karena Allah tidak akan meninggalkanku untuk menjadi Muslim sempurna, Insya Allah,” katanya. (Sumber : Republika/Onislam.net)

IslamIsLogic.wordpress.com
fb.com/IslamIsLogic

Pos ini dipublikasikan di Muallaf Non-Indonesia dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s