Adian Husaini: Tantangan Utama Kita Bukanlah JIL (Jaringan Islam Liberal)

Bukan menjadi rahasia umum lagi jika isu liberalisme bukan barang baru bagi Indonesia. Sebab, sebelumnya isu ini telah dikampanyekan sejak lama oleh mendia Dr Nurcholish Madjid.

Meski demikian, yang saat ini menjadi tantangan utama umat Islam bukanlah Jaringan Islam Liberal (JIL), salah satu kelompok kecil yang sering membawakan program-program liberalism, namun tantangan sesungguhnya umat Islam adalah orientalisme dan westernisasi.

Demikian diungkapkan Dr Adian Husaini salah satu pendiri lembaga pemikiran keagamaan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) mengenang pertama kalinya lembaga itu didirikan.

Praktek dukun, sihir dan klenik, budaya pra Islam

Praktek dukun, sihir dan klenik, budaya pra Islam

Menurut mantan wartawan Republika ini, INSISTS telah hadir 10 tahun dan memiliki banyak jaringan di Indonesia semata-mata karena takdir Allah.

“Kehadiran INSISTS pada tahun 2003, semua adalah takdir Allah, saat itu kami masih kuliah di ISTAC Kuala Lumpur,” kata Adian saat membukan acara musyawarah kerja dan “Tasyakuran 10 tahun INSISTS”, di Gedung Pertemuan Al Irsyad, Karang Pandan, Solo, Jawa Tengah, Jum’at (25/01/2013).

Oleh karenanya Adian mengutip pesan pendiri Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Mohammad Natsir mengenai tiga tantangan dakwah.

“Pak Natsir berpesan ada 3 tantangan dakwah; Sekularisasi yang menjelma menjadi liberalisasi meskipun liberalisasi ini sudah di antisipasi juga, tantangan berikutnya adalah nativisisasi, nativisasi yaitu mengembalikan Indonesia kembali pada jam pra Islam (nativisasi) dan kristenisasi,” ujarnya.

Penampilan dan praktek budaya barat (westernisasi)

Penampilan dan praktek budaya barat (westernisasi)

Menurut Adian, pada tanggal 1 Juni 1990 Mohammad Natsir kala itu mengumpulkan tokoh-tokoh Islam dan menyampaikan keprihatinannya akan ide sekularisasi Cak Nur.

“Pak Natsir sampai mengatakan, meski Cak Nur sudah kuanggap sebagai anak kandungku sendiri tapi pemikirannya sangat berbahaya. Sehingga liberalisasi sudah digunakan secara eksplisit, jadi bukan isu baru,” jelasnya.

Menurut Adian, yang dikenal penulis produktif ini, tokoh-tokoh Islam Indonesia sudah jauh-jauh hari mengingatkan masalah seperti ini.

“Pada tahun 1975, pak H.M Rasyidi sudah dari jauh hari mengingatkan. Kita menghadapi liberalisasi agama yang rumit karena datang dari sudut Islam tapi juga liberalisasi dari turunan penjajah,” terang Adian.

Selain menjelaskan tantangan dakwah, Adian juga mengabarkan, bila di usianya yang sudah 10 tahun ini, INSISTS akan secara serius membuka S2 pendidikan sains Islam.

Program kristenisasi didaerah-daerah miskin seluruh pelosok Indonesia

Program kristenisasi didaerah-daerah miskin seluruh pelosok Indonesia

“Kita sedang membenahi kurikulum pendidikan sains, kita buka S2 pendidikan sains Islam,” katanya.

Selama ini, kata Adian, belum ada satu kampus Islam yang bisa menjadi contoh di tingkat internasional. Oleh karenanya ia berharap ada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dari jaringan INSISTS se Indonesia.

Seperti diketahui, Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) kini memasuki usia 10 tahun. Mengawali acara musyawarah, Direktur INSISTS, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil memberikan orasi ilmiah tentang perlunya silaturrahmi ilmiah antar organisasi dan gerakan untuk membangun peradaban Islam. [yy/hidayatullah]

IslamIsLogic.wordpress.com
fb.com/IslamIsLogic

Pos ini dipublikasikan di Islam di Dunia dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s